Pukul lima sore, seperti biasa,dia duduk terdiam di halaman depan, sudah seperti rutinitas wajib layaknya makan tiga kali sehari,pandangan nya masih kosong,hanya ada sinar senja menutupi wajah nya yang sayu.Entah sudah sore ke yang berapa ia seperti itu, apa yang ia tunggu pun tiada seorang yang tahu.Tidak ada yang bisa mengusiknya kalau ia sudah begini,bahkan ibunya sendiri, ingat untuk masuk kembali saja sudah cukup bagus.Terakhir kali ibu harus membujuk berjam jam lamanya agar ia mau masuk kedalam rumah.Kali ini, ibu sudah kekurangan akal, harus bagaimana lagi untuk membujuknya. Maka dibiarkan nya ia terdiam disana untuk menikmati sisa sorenya.
Sore ini, ada yang beda, ada tetes hujan yang jatuh satu satu,menggantikan senja dan meninggalkan udara lembab dan berbau tanah. Semua bergerak mencari tempat untuk bersembunyi dari tetesan air. Tapi tidak dengan ia,ia hampiri tetesan itu dan berdiri terpaku di tengah beribu tetesan hujan. Diam,pandangan nya masih kosong, wajahnya menengadah keatas, seakan menantangi hujan untuk terus membasahinya, dan membiarkan air mata bercampur dengan tetesan tetesan itu.
kali ini, ibu sudah tidak tahan, ia ikut berbasahan menemani putri nya bermandikan hujan, dan berbisik pelan di telinganya " yang sudah pergi, ya sudah pergi, relakan dan ikhlaskan kepergian nya" pandangan nya tak lagi kosong,tapi air mata nya jatuh melebihi tetesan hujan sore itu,dan mereka pun berpelukan bersama di ribuan..atau jutaan tetesan hujan dan air mata.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment